Sabtu, 20 Juli 2024
spot_img

Aktivis ’98: Tangkap dan Pecat Benny Ramdhani!

BERITA TERKAIT

Kalimat perang terhadap lawan politik pemerintah yang dilontarkan Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI), Benny Ramdhani saat berbincang dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dianggap telah menodai sejarah reformasi 1998 yang menghendaki adanya demokrasi secara damai.

Menurut mantan Aktivis Forum Kota (Forkot) Agung Wibowo, kata-kata yang dilontarkan Benny Ramdhani dapat memicu pertikaian antar-anak bangsa. Hal ini, kata Agung, sangat bertolak belakang bagi kehidupan berbangsa dan bernegara Republik Indonesia.

“Provokasi terhadap perang antar saudara telah di cetuskan Benny Ramdhani selaku Kepala BP2MI yang juga Ketua Barikade 98. Apakah dia lupa akar sejarah Reformasi 98, atau dia memang bukan orang yang paham dengan Reformasi itu sendiri,” tutur Agung, Senin (28/11).

“Kita pernah mengalami konflik antar-suku, seperti di Sampit, Kalimantan, konflik agama di Ambon dan Poso. Jangan sampai ucapan Benny Ramdhani mengusik luka hati yang belum tersembuhkan,” sambung Agung.

Pendapat senada juga disampaikan mantan Aktivis Forum Komunikasi Senat Mahasiswa se-Jakarta (FKSMJ), Jimmy Radjah. Menurutnya, jika kita telusuri ke belakang, Presiden Jokowi yang dianggap sebagai “anak kandung Reformasi” dan Benny Ramdhani sebagai Aktivis ’98, tidak pantas melontarkan kata-kata yang dapat menimbulkan perselisihan, perpecahan, peperangan dll.

“Harus di jelaskan dan di klarifikasi apa maksud dan tujuannya Benny Ramdhani berkata seperti itu! Siapa musuh yang dimaksud? Apakah yang mengkritik Presiden Jokowi dianggap musuh? Apakah pantas seorang Kepala BP2MI melontarkan ide dan kata-kata teesebut?” tegas Jimmy yang juga wartawan senior.

Jimmy pun berpendapat, kelakuan Benny Ramdhani tak berbeda dengan pendengung sosial berbayar alias BuzzerRp. Sebab, narasi yang disampaikan bernuansa provokasi yang dapat memecah belah bangsa.

“Apakah sekelas Benny Ramdhani juga merupakan bagian dari Buzzer yang selalu membuat isu-isu provokatif dan cenderung SARA? Ingat! Reformasi 98 untuk penegakkan demokrasi dan pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme.
Mengaku Aktivis Reformasi 1998, malah menjadi anti demokrasi,” sesal Jimmy.

Sementara itu, mantan Aktivis Komite Mahasiswa dan Rakyat untuk Demokrasi (KOMRAD), Yoga, meminta Presiden Jokowi untuk segera memecat Benny Ramdhani dari posisinya sebagai Kepala BP2MI. Alasannya, selain sudah mengeluarkan pernyataan yang bersifat provokasi, sebagai pejabat Benny juga tak menjalankan tupoksinya secara benar. Ironisnya, sambung Yoga, pernyataannya itu malah menciderai perjuangan aktivis eksponen ’98.

“Darah, Keringat dan airmata kawan-kawan 1998 merasa ternodai dengan pernyataan Benny Ramdhani. Sebagai Aktivis 1998, saya meminta segera agar aparat menangkap Benny Ramdhani karena mengeluarkan pernyataan yang sifatnya memprovokasi,” tukas Yoga.

“Kami juga Meminta Presiden Jokowi untuk memecat Benny Ramdhani dari Kepala BP2MI karena tak menjalankan tupoksinya, malah cawe-cawe urusin politik praktis,” tandas Yoga.

spot_imgspot_img
spot_img

Hot Topics

Related Articles