Sabtu, 18 Mei 2024
spot_img

Jokowi Hanya Lip Service Sebut Prabowo Jadi Jagoannya di Pilpres 2024

BERITA TERKAIT

Direktur Political Public and Policy Studies (P3S), Jerry Massie, meyakini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak akan mendukung Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pilpres 2024. Mantan Walikota Solo itu hanya menginginkan Ganjar Pranowo sebagai Presiden dan Erick Thohir sebagai Wakil Presiden di Pilpres 2024.

“Jokowi hanya lip service menyebut nama Prabowo menjadi jagoannya. Oleh karena itu majunya Prabowo sebagai capres 2024 tidak akan didukung Jokowi. Dia menyebut banyak nama sebagai capres tapi dia lebih condong ke Ganjar,” ujar Jerry, Senin (5/12).

Menurut Jerry, Prabowo hanyalah opsi kedua. Oleh karena itu bisa saja Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) bakal menjadi parpol pengusung Ganjar dan Erick Thohir di Pilpres 2024. Namun jika didukung oligarki dan mengadopsi pola dan kebijakan Jokowi, maka Ganjar-Erick akan sulit menang, lantaran kesukaan publik atas Pemerintahan Jokowi saat ini telah jeblok.

“Saat ini publik menanti capres antitesa dari Jokowi yang tidak didukung oligarki,” tukasnya.

Selain faktor didukung oligarki, Jerry berpendapat, sebagian besar publik juga tidak akan memilih Ganjar dan Erick, lantaran rekam jejaknya sebagai pemimpin sangat buruk.

“Ganjar pemimpin gagal di Jateng, karena paling banyak orang miskin. Erick juga gagal total di BUMN utang PLN dan Pertamina tak karuan. Utang Garuda Rp138 triliun, utang Pertamina Rp104,8 triliun,” tutur Jerry.

Hal senada juga disampaikan tokoh nasional Rizal Ramli. Menurutnya, oligarki memang berkehendak agar Ganjar Pranowo bisa menjadi Presiden dan Erick Thohir sebagai Wakil Presiden di Pilpres 2024. “Sejumlah Taipan memang mau pasangan dari Ganjar itu Erick,” ungkapnya melalui wawancaranya di YouTube Channel Total Politik, Kamis (1/12).

Selain membocorkan keinginan Jokowi, Rizal juga mengkritik langkah Jokowi yang kumpul-kumpul dengan relawan. Ia membandingkan dengan langkah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Saya ingat saat itu SBY tahun ke-10 (periode ke-dua), ia mengundang taipan-taipan yang biasanya rajin datang, tapi gak pada datang itu, melintir semua,” kata dia.

“Jadi memang buat Jokowi terlalu cepat untuk itu (mengumpulkan relawan),” tambah dia.

Rizal Ramli juga mengutip hasil survei Kompas yang berkaitan dengan endorsement Jokowi. “Hasilnya hanya 15%, itu sangat rendah sekali ini. Ini baru sekarang, bayangkan 6 bulan lagi jangan-jangan 0%, terus satu tahun lagi malah bisa negatif,” kata dia.

“Jadi siapapun sudah jelas yang di endorse Jokowi bakal malah makin ambrol atau ya dibilang endorsement Jokowi itu jadi nggak meaningful,” ungkap Rizal Ramli.

“Karena ya pasti dilihatnya Jokowi sudah pasti ke Ganjar gitu ya. Jokowi kan pakai teknik semua lah, endorse siapa aja, dari Airlangga bahkan Prabowo. Gak taunya kecele juga,” tambahnya.

spot_imgspot_img
spot_img

Hot Topics

Related Articles