Selasa, 21 Mei 2024
spot_img

Bank Dunia Koreksi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2023 Jadi 4,8 Persen

BERITA TERKAIT

Bank Dunia (World Bank) mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 dari 5,1 persen menjadi 4,8 persen.

Rilis Bank Dunia edisi Desember 2022 memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2 persen pada 2022, kemudian 4,9 persen pada 2024 dan 5 persen pada 2025.

Sementara inflasi diproyeksi mencapai 4,2 persen pada 2022. Kemudian 4,5 persen pada 2023, 3,6 persen pada 2024 dan 3,4 persen pada 2025.

Untuk defisit fiskal Indonesia, Bank Dunia memproyeksi sebesar 2,7 persen terhadap PDB pada 2022, 2,5 persen pada 2023, 2,5 persen pada 2024 dan 2,4 persen pada 2025.

Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste Satu Kahkonen mengatakan Indonesia dapat mempertahankan pertumbuhan yang kuat dan mengatasi potensi tantangan ke depan dengan beberapa inisiatif, di antaranya melanjutkan penerapan reformasi pajak yang akan membantu menciptakan ruang bagi investasi dan menciptakan ketahanan terhadap goncangan.

Kemudian, penetapan harga berbasis aturan untuk energi yang dapat menekan subsidi, serta menerapkan program jaring pengaman sosial yang dapat ditargetkan secara lebih efektif dan diperluas untuk menciptakan jaminan perlindungan.

“Sistem perlindungan sosial Indonesia dapat membantu rumah tangga mengelola risiko dan volatilitas yang meningkat dari kondisi eksternal, tetapi perlu diperkuat untuk mengisi kesenjangan cakupan dan inklusi yang tersisa,” kata Satu Kahkonen dalam dalam acara World Bank Indonesia Economic Prospects Report, Kamis (15/12).

Satu menambahkan Indonesia memiliki ruang yang signifikan untuk mendorong pertumbuhan ekspor, yang terkonsentrasi pada industri padat sumber daya, dengan mendiversifikasi ekonominya. Selain itu, potensi sektor jasa sebagian besar masih belum dimanfaatkan.

Bank Dunia memproyeksi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil di angka 5,1 persen untuk 2022 dan 2023 pada Oktober lalu.

Lembaga internasional ini juga sempat mengingatkan perusahaan di Indonesia dan beberapa negara lain di kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) rentan depresiasi nilai tukar.

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara pemilik utang swasta dengan porsi mata uang asing tertinggi. Kondisi serupa juga terjadi di Filipina dan Vietnam di mana utang jatuh tempo lebih besar dalam bentuk pinjaman sindikasi dibanding obligasi.

“Setidaknya 60 persen dari utang akan jatuh tempo dalam mata uang asing, sehingga perusahaan-perusahaan di negara tersebut rentan terhadap depresiasi nilai tukar,” bunyi Bank Dunia edisi Oktober 2022 tentang perekonomian Asia Timur dan Pasifik (EAP).

spot_imgspot_img
spot_img

Hot Topics

Related Articles