Selasa, 21 Mei 2024
spot_img

Haul Nuku Sulaeman ke-23, Rizal Ramli: Semangat Harus Ditiru untuk Melawan Rezim yang Jahat!

BERITA TERKAIT

Meski Nuku Sulaeman telah wafat 23 tahun silam, kenangannya dalam memperjuangkan demokrasi semasa hidup tak pernah lekang oleh waktu.

Tokoh nasional Rizal Ramli mengisahkan pengalamannya ketika pernah berinteraksi dengan salah satu pendiri Pusat Informasi dan Jaringan Aksi Reformasi (Pijar) itu ketika berjuang bersama mendobrak sistem otoriter Orde Baru.

“Saya kenal Nuku secara dekat. Aktivis pro demokrasi, Yayasan Pusat Informasi dan Jaringan Aksi Reformasi (Pijar) yang keras, militan dan berani. ‘Man of Action’, pikiran diterjemahkan menjadi tindakan berani dan spektakuler,” ujar Rizal Ramli saat menghadiri acara haul Nuku Sulaeman ke-20 yang digelar di Kantor Pusat ProDem, kawasan Jakarta Pusat, pada Sabtu (18/2).

Rizal Ramli ingat betul, Nuku Sulaeman pernah ditangkap oleh polisi di zaman Orba karena kritis terhadap kebijakan Soeharto tahun 1992. Ketika memplesetkan akronim Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) oleh Nuku Sulaeman yakni Soeharto Dalang Segala Masalah Bangsa (SDSB).

Desember 1993, Nuku Sulaeman divonis pengadilan 4 tahun hukuman penjara.

“Di penjara itulah Nuku menikah dengan Yayuk di Mapolsek Matraman saya jadi saksi perkawinan Nuku dan Yayuk. Mengharukan, yang diramaikan oleh banyak aktivis prodemokrasi dan Polisi,” tutur Rizal Ramli yang juga salah seorang pendiri Gerakan Anti Kebodohan (GAK) di era 70-an.

Usai menikah dan bebas dari penjara, Rizal Ramli mengungkapkan, Nuku Sulaeman bukan malah melempem, dia tetap vokal dan semakin kritis serta gagah berani menjadi ujung tombak perubahan melawan rezim otoriter Orba. Menurut Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur ini, spirit Nuku Sulaeman sedianya terus dirawat dan diejawantahkan dalam konteks kekinian.

Oleh karena itu, Rizal Ramli yakin bakal ada waktunya ketika rezim sudah otoriter maka harus dihadapi dengan berani dan tanpa basa-basi.

“Kondisi hari ini, demokrasi dipreteli dan dibalikkan kembali menjadi semi-otoriter, negara hukum diubah menjadi negara kekuasaan, amburadul!” sesal Rizal Ramli.

Rizal Ramli menambahkan, korupsi kolusi nepotisme (KKN) yang terjadi sekarang ini justru lebih masif dan meluas dari pusat sampai daerah-daerah. Menurutnya, rezim saat ini lebih parah dari Orba.

“Nepotisme Jokowi lebih ganas dan brutal dibanding zaman Soeharto. Anak-anaknya tidak hanya menguasai banyak bisnis melalui mekanisme ‘dagang kekuasaan’ tapi juga menguasai jabatan-jabatan politik,” tandasnya

spot_imgspot_img
spot_img

Hot Topics

Related Articles