Sabtu, 20 Juli 2024
spot_img

Rizal Ramli: Orde Baru Memang Jahat, Rezim Jokowi Justru Lebih Parah

BERITA TERKAIT

Kekejaman rezim saat ini dinilai melebihi Orde Baru. Kebebasan berpendapat sebagaimana amanah reformasi tertahan oleh regulasi-regulasi baru yang berujung pada sanksi hukum. Belum lagi, keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) justru dipreteli dan UU KUHAP menjadi ancaman yang sangat serius bagi pengkritik penguasa.

“Di KUHAP yang baru, kalau ada mahasiswa dan rakyat kritik menteri, gubernur, bupati, Anggota DPR bisa dipenjarain. Ini jauh lebih sadis dari zaman Soeharto! Zaman Soeharto hanya kritik presiden bisa dipenjarakan,” ungkap tokoh nasional, Rizal Ramli dalam acara peringatan 25 tahun reformasi di Universitas Indonesia (UI), Rabu (24/5).

Tokoh pergerakan mahasiswa 77/78 yang pernah ditangkap dan merasakan dinginnya hotel prodeo selama 1,5 tahun saat era Presiden Soeharto itu menambahkan, selain demokrasi yang mengalami kemunduran, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di era rezim Jokowi semakin tak terkendali. Ironisnya, anak dan menantu Presiden secara vulgar berbisnis dari modal yang diduga diperoleh melalui pengusaha hitam. Hal itu juga ditengarai sebagai tindak pidana pencucian uang.

“Namun, yang paling mengkhawatirkan lagi adalah gurita bisnis anak-anak keluarga Jokowi. Di mana baru enam tahun berkuasa, anak-anaknya sudah memiliki 60 perusahaan.¬†Sementara, Tomi Soeharto bisnis itu ketika Soeharto sudah kuasa 15 tahun,” tutur Menko Ekuin Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur tersebut.

Realita itu kian memanaskan diskusi para narasumber dengan mahasiswa UI. Peserta seolah memiliki semangat baru bertemu usai bertemu langsung bersama para ‘pengawal’ demokrasi tersebut.

“Kawan-kawam mahasiswa jangan mau tergiring drakor Copras-Capres. Fokus perbaiki sistem untuk mewujudkan demokrasi dan keadilan,” demikian pesan Rizal Ramli.

Sementara itu, Ketua BEM UI Melki Sedek Huang tak ketinggalan berapi-api menyampaikan marwah reformasi. Mahasiswa tak boleh tinggal diam begitu saja dan hanya menjadi penonton bagi deformasi.

“Kita bisa menonton realita republik itu apa yang sedang terjadi, jadi kalau keluar dari tempat yang kita menimba ilmu dan pengen ngelawan itu baru benar teman-teman,” tegas Melki.

 

spot_imgspot_img
spot_img

Hot Topics

Related Articles