Senin, 24 Juni 2024
spot_img

Tanda-tanda Zaman

BERITA TERKAIT

KOCAP kacarita, demikian kata Ki Dalang dengan sangat takzimnya menceritakan owah-owahan yang sedang terjadi. Sambil menjejakkan kakinya yang menjepit kecrek, dia memulai kisahnya dengan mengatakan apa yang sedang terjadi saat ini. Ini sebuah cerita tentang terjadinya ontran-ontran di Astinapura, karena ketidak jelasan aturan dari para Menteri mengelola tugasnya, dan waktu hanya dihabiskan untuk berfoya-foya.

Korupsi dan kolusi merajalela, sementara rakyat sengsara tidak pernah menjadi perhatian. Itulah Astinapura, negara yang dihormari oleh banyak negara manca, namun sebenarnya sangat bobrok bila dilihat dari dalam.
Peringatan alam yang sudah secara jelas menunjukkan ketidak senangnya dengan perilaku pemangku praja tidak menjadikan para pemangku Astina sadar akan kelakuannya. Bahkan, junjungan mereka tidak mereka perhatikan. Mereka anggap sebagai angin lalu.

Lihata mereka (red. Merapi) sudah menunjukkan kekuatannya melakukan kurda kekuatan dalam bentuk gempa yang cukup besar pengaruhnya. Walaupun saat ini baru kurang dari 100 rumah yang menjadi korban, itu sebuah peringatan dari alam atas ketidak patuhan pada tanda atau irama alam. Dan irama alam itu menunjukkan tentang keadilan.

Hal ini baru kita yang bisa secara tenang dan wening bisa menarik sebuah garis lurus, yaitu tentang tingkah laku kita terhadap gejala alam.

Kita tidak perlu harus menunggu seperti kerajaan Asitinapura yang akhirnya hancur lebur oleh kekuatan yang semula selalu disia-siakan. Mereka harus tersia-sia sampai 12 tahun bersembunyi dan harus mau direndahkan menjadi nomor kesekian oleh para punggawa Astina tersebut. Inilah yang kelihatannya alam terjadi dalam babakamn Astina pura tersebut.

Satu contoh yang sangat bagus ini dapat menjadi amsal bagi kita agar kita terjebak pada perilaku tersebut. Menjadi menarik bila kita ikuti perkembangan yang tejadi. Bagaimana Kurawa yang gemar berfoya-foya harus kalah oleh kekuatan yang dibalut oleh keprihatinan tersebut. Sehingga meskipun saatnya ini Rasen Arjuna Sari Amarta harus rela untuk dinistakan dan menjadi orang yang dikalahkan. Namun, pada saatnya dia akan muncul menjadi sosok yang justru akan mampu mempertahankan keadilan dan berakhir dengan kemakmuran bagi masyarakat di Astinapura yang sudah dikuasai oleh Satria Amarta tersebut.

Memjadi penting bagi kita untuk menentukan sikap. Akankah kita akan bergabung dengan Raden Harjuna atau kita memilih bergabung dengan Kurawa? Karena, pilihan tersebut akan mempunyai dampak pada kamuan kita untuk merasakan pengorbanan pada awalnya dan menikmati hasil di kemudian hari.

Sebagaimana peribahasa “Berakit-rakit ke hulu, berenang renang ke tepian. Besakit-sakit dahulu, bersenang senang kemudian.” Itulah saat Indonesia menjadi negara yang kuat dan besar. Meski tidak seperti kata seorang tokoh yang mengatakan kita akan tumbuh meroket dalam waktu cepat, sambil menaikkan tangannya menunjuk langit.

Oleh: Bambang SP, Budayawan

spot_imgspot_img
spot_img

Hot Topics

Related Articles