Sabtu, 18 Mei 2024
spot_img

Alam Sudah Bersabda

BERITA TERKAIT

KOCAP kacarita, demikian kata Ki Dalang memulai wawasannnya dalam menceritakan bagaimana perubahan itu terjadi.

Sebuah kejadian yang mau bagaimanapun akan terjadi dalam situasi bangsa dan negara yang sedang bergolak. Ini akan selalu terkait dengan tanda-tanda alam. Sebuah kerusakan yang menciptakan keresahan pada masyarakat akan ditangkap dengan sangat teliti oleh alam. Bahkan, sering menghasilkan temuan-temuan baru yang menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Bahkan, bila secara cermat diamati, kondisi ini menemukan kesimpulan-kesimpulan yang dapat mencengangkan.

Beberapa saat yang lalu kita mengalami gempa yang besar di Bantul. Bahkan, dampaknya terasa ke Gunung Kidul dan bahkan lebih jauh lagi. Sementara itu, tidak berselang lama, terjadi aliran lahar dingin dari Semeru yang memutuskan hubungan beberapa desa. Menjadi menarik mengapa alam bertubi-tubi mendera kita dengan bencana itu.

Sebagaimana dinyanyikan oleh Ebiet G Ade dalam lagunya bertajuk “Berita Kepada Kawan”. Kalau dalam lagu itu diakhiri dengan ‘Bertanyalah pada rumput-rumput yang begoyang..’, apakah kita tidak sadarakan peringatan Tuhan?’

Bila dalam lagu itu diakhiri dengan berkata secara sentimental, hal itu tidak mungkin kita hanya bertanya pada rumput yang bergoyang, tapi kita perlu meamahami penyebabnya dan mencarikan solusinya. Sebuah sikap positif yang perlu kita miliki dalam menghadapi keriuhan ini.

Sebagaimana saat gempa yang terjadi pada tahun 1997 di Bantul tenyata oleh ahli-ahli Jepang menemukan bahwa Yogyakarta itu terletak pada sebuah teluk purba yang karena letusan Merapi, sehingga terjadilah daratan sebagaimana seperti yang terlihat saat ini. Sehingga para ahli itu menyampaikan, bahwa apabila dilakukan pengedukan tanah di Yogyakarta maka sangat besar kemungkinan sampai sedalam 200 meter berupa pasir. Dari situlah penyingkapan atas sebuah bencana akan menjadi sebuah sikap terukur yang  positif. Sikap terukur yang positif ini pun perlu kita lakukan dalam menghadapi keriuhan ini.

Adalah tidak tepat bila kita bereaksi terhadap pertumbuhan ekonomi yang nyungsep dengan sikap berfoya-foya. Atau paling tidak menghamburkan uang yang hasilnya masih akan diperoleh dalam jangka panjang. Apalagi bila saat penentuan kebijakan dilakukan tanpa sebuah penelaahan dan feasibility study yang cukup.

Ini sangat jelas terlihat. Misalnya, pada saat kita akan menentukan pemindahan ibu kota negara. Kita saat ini sudah mempunyai pengalaman baik dalam negeri, maupun melihat contoh negara lain dalam memindahkan negaranya.

Di dalam negeri sendiri, kita mempunyai pengalaman dalam pemindahan ibu kota Maluku Utara. Bagaimana kota Sofifi yang tidak lebih menjadi kota siang hari. Meski sudah dibangun infrastruktur yang bagus, jalan yang mulus mau-pun gedung yang mentereng, tetapi masyarakat cenderung memilih berhimpitan di kota Ternate. Sofifi sebagai kota yang direncanakan akan menjadi ibu kota propinsi hanya hidup mulai jam 9 pagi sampai jam 4 sore. Bahkan, jam 3 siang sudah berbondong-bondong pegawai negeri sipil mengantre di pelabuhan ferry untuk kembali ke Ternate. Sebuah pemborosan yang cukup besar baik bagi pegawai negeri maupun bagi pemerintahnya.

Saat sekarang pemerintah sekali lagi mengambil kebijakan untuk melakukan pemindahan ibu kota. Tidak tanggung-tanggung memindahkan Ibu Kota Negara.

Penulis hanya teringat kembali saat pemerintah Jawa Barat berkehendak memindahkan ibu kotanya dari Bandung. Waktu itu yang pertama dipilih adalah BaleEndah. Alasannya itu sesuai dengan wangsit. Ternyata yang terjadi adalah kawasan tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi Sungai Citarum. Bila sedang banjir atau Citarum meluap, maka Bale Endah menjadi lautan yang tidak bisa dimanfaatkan untuk kegiatan perkotaan.

Bagaimana dengan kondisi calon ibu kota negara kita?

Kelihatannya ini juga nasibnya akan sama dengan Bale Endah. Beberapa saat yang lalu dilaporkan bahwa kawasan calon ibu kota ini terendam air dalam waktu yang cukup lama. Belum lagi hasil kajian dari Dr. Andang Bachtiar yang sudah meneliti kawasan itu, ternyata mempunyai struktur tanah yang tidak baik untuk dijadikan sebagai kawasan perkotaan.

Ada dua faktor dasar bagi keberlangsungan perkotaan, yaitu daya dukung perkotaan dan lokasi perkotaan.

Daya dukung perkotaan menunjukkan bahwa calon kota ini terletak pada kawasan dengan struktur geologi lempengan dengan patahan-patahan yang cukup rapat. Ini jelas berbahaya bila kita bangun atau kita disain sebagai kawasan perkotaan dengan gedung-gedung tinggi, layaknya sebuah ibu kota negara.

Hal lain yang juga sangat penting adalah faktorsejarah. Kita bisa melihat bahwa Jakarta  adalah sebuah kota yang tumbuh dan berkembang dari sebuah kota pelabuhan Sunda Kelapa yang kemudian berubah menjadi Batavia. Itu memerlukan waktu lebih dari 200 tahun untuk dapat berfungsi seperti sekarang.

Marilah kita berangan, berapa tahun yang akan diperlukan oleh kota baru ini untuk tumbuh dan berkembang? Sebuah pertanyaan yang menarik, apalagi saat dimana kondisi keuangan negara ini tidak sedang baik-baik saja.

Oleh: Bambang SP, Budayawan

spot_imgspot_img
spot_img

Hot Topics

Related Articles