Selasa, 21 Mei 2024
spot_img

Gernas Tastaba Berantas Buta Membaca di Bandung

BERITA TERKAIT

Darurat literasi membaca belum usai. Menghadapi hal ini, masyarakat terus bergerak dan ikut turun tangan membuat solusi. Salah satunya melalui Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Membaca (Gernas Tastaba). Gernas Tastaka terus melaksanakan kegiatan pemberantasan buta membaca di berbagai daerah di Indonesia. Kali ini sasaran pemberantasan juta membaca dilaksanakan di Bandung Jawa Barat. Gerakan ini menyasar para guru sekolah dasar agar lebih memahami bagaimana mengajarkan materi membaca kepada siswa-siswi sekolah dasar.

Seperti diketahui, berdasarkan hasil Asesmen Nasional (AN) tahun 2021, Indonesia saat ini sedang mengalami darurat literasi, yakni satu dari dua peserta didik jenjang SD sampai SMA belum mencapai kompetensi minimum literasi. Rendahnya literasi siswa Indonesia mengakibatkan produktifitas manusia Indonesia juga sangat rendah dibandingkan negara-negara di dunia.

“Untuk bisa aktif membaca, kita harus bisa menghubungkan bacaan dengan pengalaman kita, teks lain, dan dunia di sekitar kita,” ungkap Dhitta Puti, Pengawas Yayasan Penggerak Indonesia Cerdas, dalam pembukaan kegiatan Gerakan Nasional Pemberantas Buta Membaca (Gernas Tastaba) di Kota Bandung Sabtu (16/09).

Yayasan Indonesia Cerdas bekerja sama dengan Ikatan Guru Indonesia (IGI) se-Bandung Raya, menyelenggarakan kegiatan pelatihan pemberantasan buta membaca yang diselenggarakan di SDN 037 Kota Bandung. Kegiatan yang akan berlangsung selama 6 hari tiap Sabtu dan Minggu ini, diikuti oleh 20 peserta di antaranya guru yang berasal dari berbagai sekolah di Bandung, serta beberapa mahasiswa prodi pendidikan.

Dhita Puti menuturkan Gernas Tastaba bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekolah dasar di Indonesia, salah satunya lewat pelatihan guru dengan topik dasar literasi. “Harapannya semoga kualitas mengajar di kelas semakin baik, juga guru-guru yang mengikuti kegiatan ini menyebarkan gagasannya ke temen-temen guru lain,” ujarnya.

Dalam kegiatan ini, peserta dibagi ke dalam kelompok berisi lima orang dan masing-masing diberikan sebuah buku kerja berjudul “Menjadi Pembaca Aktif” yang akan menjadi modul acuan selama rangkaian kegiatan ini berlangsung. Buku ini akhirnya akan menjadi portofolio dari para peserta terkait proses belajarnya menjadi pembaca aktif. Dalam buku ini terdapat berbagai sarana belajar, mulai dari pengenalan gagasan dalam membaca hingga ruang refleksi terkait pengalaman dan kepercayaan terkait membaca.

Kegiatan ini diawali dengan cerita pengalaman berkesan para guru seputar membaca. Tidak hanya dituangkan dalam tulisan, namun pada prosesnya para guru pun saling berdiskusi dengan membagikan ceritanya bersama anggota kelompoknya. Para peserta tidak hanya bisa merefleksikan pengalaman membacanya, namun dapat mengaitkan pengalamannya dengan pengalaman dari guru lain dengan latar belakang dan pemikiran yang berbeda.

Kepala Seksi Pendidikan Kota Bandung Fajar Nugroho berharap pelatihan membaca sepertinya dapat membantu siswa agar mampu memahami bacaan sehingga siswa dapat mengaplikasikan pengetahuan dan informasi dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.

“Bisa membaca saja tidak cukup. Siswa harus bisa memahami apa yang telah dibacanya dan mampu mengaplikasikan pengetahuan dan informasinya di lingkungan masyarakat,” katanya.

Dengan kemampuan membaca siswa diharapkan memiliki karakter yang tangguh, jiwa kepemimpinan dan adaptif. Tantangan dunia ke depan semakin tidak mudah. Siswa harus dapat memiliki beragam pengetahuan dan keterampilan dan semua itu dimulai dari kemampuan siswa dalam memahami bacaan.

Sinta Dianti, salah satu peserta yang juga seorang guru memengatakn kegiatan ini memberikan wawasan lewat pengalaman yang diceritakan oleh peserta lain. Menurutnya, pengalaman tidak hanya didapat dari pengalaman diri sendiri, namun juga lewat bercerita dengan orang lain. “Ilmu itu bukan hanya teori, tapi juga praktik,” ujarnya.

Ia menambahkan, di sekolah dasar kegiatan membaca masih dibutuhkan oleh siswa sebagai suatu dasar untuk naik ke level berikutnya. Apabila belum memahami soal cara berbahasanya sendiri, akan kesulitan saat masuk ke dalam materi pembelajaran nantinya. “Jadi ini kayak gimana cara saya menyampaikan materi ke anak nantinya,” pungkasnya.

spot_imgspot_img
spot_img

Hot Topics

Related Articles