Kamis, 20 Juni 2024
spot_img

Presma Univ. Trisakti Bawa Visi Pembangunan Industri dan Teknologi untuk Keadilan Iklim dalam Kampanye Global COP28 Dubai

BERITA TERKAIT

Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Trisakti, Vladima Insan Mardika menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi tahunan yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Perubahan Iklim, yang disebut Conference of Parties (COP) ke-28 di Dubai, Uni Emirat Arab.

Keberangkatan pria yang karib disapa Vladima ini melalui Terminal Interansional Bandara Soekarno Hatta diantar oleh Tim Kepresidenan Mahasiswa (Kepresma) dan mahasiswa Trisakti pada Rabu, 6 Desember 2023.

Pengalamannya memimpin gerakan mahasiswa skala nasional tidak diragukan lagi untuk membawa visi kaum intelektual di kancah internasional. Dengan latar keilmuan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri, Vladima menjadi figur intelektual mahasiswa yang
membawa visi, kritik dan analisis terhadap kebijakan industrial dan teknologi dalam berbagai forum strategis di Blue Zone COP28, dari tanggal 7 hingga 12 Desember 2023.

Vladima menyampaikan kritik dan inovasi kaum intelektual atas pembangunan
industri dan teknologi sangat dibutuhkan. Secara historis, krisis iklim merupakan dampak dari kegagalan sistem ekonomi dunia yang mengandalkan industri yang eksploitatif dan ekspansif, merusak alam, iklim dan kehidupan masyarakat demi mengakumulasi kapital dan super-profit untuk segelintir kekuatan besar monopoli global.

“Intelektual harus bersikap tegas dan bersuara lantang untuk menciptakan kebijakan nasional dan global yang mengakhiri akar masalah krisis iklim, segera!” tegas Vladima dalam keterangan pers, Jumat (8/12).

Peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dari produksi dan ekspansi industrial negeri-negeri kapitalis maju telah menciptakan pemanasan global berkepanjangan yang mengakibatkan krisis iklim. Ketergantungan teknologi, mesin, dan peralatan industrial dan pertanian dari mereka hanya menciptakan industri terbelakang semi-processing (manufaktur) dan assembling (rakitan) di negeri-negeri seperti Indonesia, yang pada akhirnya turut menjadi kontributor besar emisi yang merusak iklim. Total emisi GRK dari sektor industri Indonesia terus mengalami peningkatan, dari 222,9 juta ton CO23 pada tahun 2021 menjadi 238,1 juta ton CO2e pada tahun 2022.

Kini, menurut Vladima, Indonesia sangat ambisius mempromosikan diri sebagai negara industri untuk mendukung “transportasi ramah lingkungan” berbasis tenaga listrik (electric vehicle) dengan mengandalkan eksploitasi nikel yang justru menghancurkan alam, kesehatan dan kedaulatan rakyat.

Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) juga menunjukkan ambisi mitigasi ikim Indonesia melalui penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) dari teknologi panel surya hingga peningkatan bauran bahan bakar nabati (biofuel) hingga 100% (B100).
Proyek ratusan triliun kerjasama dengan ExxonMobile baru saja diteken dan diklaim untuk
mendukung mitigasi iklim Indonesia melalui penerapan teknologi Carbon Capture Storage
(CCS).

Vladima menegaskan, komitmen dan kebijakan semacam itu sama sekali membelakangi kenyataan dan kebutuhan mitigasi dan adaptasi yang sebenarnya dibutuhkan oleh alam dan masyarakat. Kehadiran kita di COP28 harus membuka mata dan telinga para petinggi dunia dan Indonesia dalam penanganan krisis iklim. Kebijakan semacam itu, selain memperpanjang solusi palsu berbasis penguasaan tanah skala besar juga semakin menunjukkan ketidakberdayan Indonesia membangun industri yang mandiri, kuat dan adil,
lepas dari ketergantungan teknologi, mesin dan peralatan dari korporasi kapitalis, seperti
Amerika Serikat dan para pendukungnya.

“Untuk itu, sangat tepat suara tegas kaum intelektual yang memperjuangkan landreform sejati untuk pembangunan industri nasional,” tukas Vladima.

COP28 di Uni Emirat Arab juga menjadi momentum tepat bagi intelektual Indonesia
untuk mempromosikan visi pembangunan industri modern yang melayani kepentingan rakyat, ramah alam dan iklim, serta penerapan pengetahuan dan teknologi tepat guna untuk membantu rakyat mengatasi masalah produksi dan perubahan iklim.

“Banyak inovasi dari kaum intelektual Indonesia dari berbagai universitas seperti Trisakti yang bisa diandalkan untuk pengembangan industri dan tekonologi yang lebih maju untuk alam dan rakyat. Yakin saja, saya konsisten dengan visi ini, akan saya sampaikan dalam forum-forum COP28,” tandas Vladima dengan senyum optimis saat pelepasan keberangkatan menuju Dubai.

 

spot_imgspot_img
spot_img

Hot Topics

Related Articles