Kamis, 20 Juni 2024
spot_img

Kurang Baca Literasi dan Hanya Menghapal, Greenflation Versi Gibran Sesimpel Itu?

BERITA TERKAIT

DEBAT cawapres kedua kembali diwarnai dengan lontaran istilah asing. Gibran dalam debat kedua tersebut melontarkan istilah Greenflation atau Green Inflation yang merupakan istilah baru dalam ekonomi global yang berhubungan dengan krisis energi.

Namun, sayangnya seperti debat cawapres pertama Gibran, lagi-lagi hanya sebatas melontarkan istilah dan lagi-lagi dalam penjelasannya tidak tepat sama sekali, hal ini jelas menunjukan bahwa Gibran hanya sebatas menghapal dan tidak memahami sama sekali apa yang dia lempar. Untuk menutupi ketidakpahamannya itu, karena di luar teks yang
dia hapal, maka Gibran melakukan atraksi yang melecehkan lawan debatnya.

Tepat apa yang dikatakan Anies Baswesan setelah usai debat cawapres, dimana Anies mengatakan “jika orang menguasai subtansinya maka dia tidak akan melakukan atraksi, tapi menjelaskan secara detail”. Atraksi Gibran yang hanya untuk menutupi ketidakpahamannya dengan apa yang dilempar dalam debat, langsung dijawab oleh Mahfud MD dengan perkataan “Pertanyaan recehan tidak perlu dijawab”, atraksi Gibran tersebut juga menuai sentimen negatif dari netizen di aplikasi X.

Drone Emprit menganalisa hasil debat cawapres kedua melalui analisa sentimen negatif netizen. Dan Hasilnya menunjukan angka sentimen negatif terhadap Gibran sangat tinggi yaitu 60%, Mahfud 12%, dan Muhaimin paling kecil sentimen negatifnya yaitu 6%.

Tingginya angka sentimen negatif ini tentu merepotkan tim pemenangan paslon
no urut 02 yang harus berkeringat meluruskan dan menjelaskan apa yang dilontarkan Gibran soal Greeflation atau Green Inflation itu adalah pertanyaan mahal dan ilmiah, bukan pertanyaan receh yang disebut Mahfud MD.

Budiman Sudjatmiko, pentolan PRD yang kadernya hilang diculik karena melakukan perlawan terhadap militer penyokong kekuasaan ORBA pun ikut mengklarifikasi soal Greenflation yang tidak dijelaskan secara detail oleh Gibran. Budiman dalam satu tayangan video menyatakan “Greenflation istilah baru dalam Ekonomi. Kalau gak mengerti jangan sebut ‘Receh’, greenflation merujuk pada kenaikan harga & krisis tenaga kerja yang terjadi seiring dengan transisi ramah lingkungan.”

Sayangnya Gibran bukan Budiman Sudjatmiko yang mampu menjelaskan greenflation dengan jelas. Dalam debat cawapres kedua, Gibran hanya mengatakan “Greenflation itu, kita kasih contoh yang simple saja. Demo rompi kuning di Prancis. Bahaya sekali, sudah memakan korban. Ini yang harus diantisipasi, jangan sampai terjadi di Indonesia,” ungkap Gibran kepada Mahfud. Gibran hanya melontarkan istilah greenflation, namun tidak mampu memberi penjelasan yang komprehensif, justru malah menerangkan soal green jobs. Disini kita bisa melihat bahwa Gibran juga tidak memahami secara subtansi apa yang dimaksud dengan greenflation.

Pada dasarnya, Greenflation sendiri merupakan istilah yang menggambarkan naiknya harga barang-barang ramah lingkungan akibat tingginya permintaan terhadap bahan bakunya dan tingginya biaya pengolahan bahan baku menjadi energi hijau, namun pasokannya tak mencukupi. Sehingga terjadi inflasi imbas dari transisi energi itu. Mengadaptasi metode produksi dengan teknologi rendah karbon, yang mengeluarkan lebih sedikit gas rumah kaca, di satu sisi memerlukan investasi besar dan mahal yang akan meningkatkan biaya marjinal setiap unit yang diproduksi dalam jangka pendek dan, di sisi lain, penggunaan energi dari bahan yang lebih langka dan karena itu lebih mahal. Hal ini akan menciptakan tekanan ke atas pada harga. Namun, transisi energi tidak selalu menimbulkan inflasi atau greenflation. Ada salah satu paper dari European Bank yang membahas mengenai hal itu. “Di paper itu dijawab tidak selalu demikian (transisi energi menimbulkan inflasi).

Mengenai Demo rompi kuning di Perancis pun Gibran tidak memahami demo tersebut, demo yang terjadi pada 17 November 2018 tersebut bukan dipicu oleh greenflation tapi dipicu oleh sistem pajak yang memberatkan, dan tidak sepadan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Kenaikan tersebut terjadi karena Pemerintah Prancis
menaikan pajak bahan bakar hingga 0.029 euro per liter.

Menurut Macron, Prancis perlu melakukan reformasi ekonomi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dengan menaikan pajaknya. Kondisi ini malah justru menyebabkan inflasi dan memicu kenaikan biaya hidup masyarakat secara signifikan.

Oleh: Agung Nugroho, Perhimpunan Aktivis 98 (PA 98)

spot_imgspot_img
spot_img

Hot Topics

Related Articles