Kamis, 20 Juni 2024
spot_img

Cek Fakta Gibran Soal Pabrik Pupuk, Ternyata Kasih Cuan ke Pejabat yang Sudah Kaya

BERITA TERKAIT

DALAM debat calon wakil presiden ke-2 atau debat pilpres ke-4, Gibran Rakabuming Raka alias Samsul mengklaim: “tahun lalu kita sudah bangun pabrik (pupuk) di Fakfak.”

Faktanya, Salah!

Bukan “sudah bangun”, melainkan bapaknya dia baru sebatas seremoni “peletakan batu pertama” (23/11/2023).

Nilai proyek itu, kata bapaknya Samsul: “kurang lebih 30-an triliun rupiah.”

Info sumber saya: tahun ini, tender proyek itu baru akan dimulai.

Kenapa Fakfak?

Berawal dari Pupuk Kujang yang tak lagi dapat gas di Cikampek dan direkomendasikan untuk relokasi pada 2011.

Pada 2013 diputuskan relokasi ke Banggai, Sulawesi Tengah, dan proyek pembangunannya diserahkan ke PT Panca Amara Utama/PAU, yang diduga kuat dimiliki/terafiliasi pengusaha Boy Thohir, kakak Menteri BUMN Erick Thohir (yang terlihat hadir di belakang Samsul saat debat berlangsung).

Silakan Googling sendiri tentang dugaan kasus dalam proyek itu antara PAU dan Rekayasa Industri/Rekind (Pupuk Indonesia), yang juga sering saya tulis.

Pada 2016, ada arahan dari seorang menteri agar Pupuk Kujang direlokasi ke Fakfak, yang secara lokasi lebih jauh dan konsekuensinya menjadikan biaya produksi dan distribusi lebih mahal.

Samsul berkata kuncinya adalah mendekatkan pupuk ke petani sebab “akses pupuk ke petani belum optimal.”

Tidak demikian.

Di situ adalah daerah transmigrasi, yang tidak begitu banyak petaninya. Lagipula Papua adalah penerima subsidi pupuk yang terkecil, terbesar adalah Jawa. Papua itu lebih banyak menerima subsidi padi, jagung, kedelai (pajale).

Lho, lho? Ada apa di balik batu?

Dugaan kuatnya mau dibikin pabrik amoniak untuk jadi olefin buat diekspor ke Jepang (lokasinya di leher luar kepala burung peta Papua, offshore, dan ada feasibility study/FS yang mengarahkan ke bisnis ekspor)

Ada aroma bisnis personal segelintir orang yang kelihatannya hendak disokong sumber daya negara/BUMN.

Kedoknya adalah pengembangan ke arah bisnis petrokimia.

Siapa pemilik lapak yang bakal cuan gede itu?

Mengapa bisnis petrokimia seperti itu tidak diserahkan ke Pertamina dan Pupuk Indonesia fokus saja ke jasa pemupukan sebagai bisnis inti?

Ngeri cakar-cakarannya.

Sebab, ibarat beringin tua, para jinnya pun tentu ‘tua-bangka’ juga.

Bagaimana jika kita tanyakan soal itu ke Samsul?

Sialnya, saya cari-cari, tak ada batang hidungnya kalau menyangkut urusan oligarki bisnis ‘langitan’ begini.

Jangan-jangan dia lagi tersesat dan kepayahan di tengah belantara nafsu berkuasa yang diciptakan orang tuanya sendiri.

Tak hanya soal “catatan Mahkamah Konstitusi” yang melanggar etika dan kelakuannya yang angkuh itu, tapi di balik heboh Samsul, ada aroma bisnis-politik juga rupanya.

Begitukah?

Salam.

Oleh: Agustinus Edy Kristiyanto, Jurnalis Invesigasi dan Founder Gresnews.com

spot_imgspot_img
spot_img

Hot Topics

Related Articles